BEC 2026 Tampilkan Perpaduan Budaya, Sejarah, dan Fashion Global Bertema Perang Bayu

Berita293 Dilihat

Banyuwangi – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 kembali digelar secara spektakuler di Banyuwangi, Sabtu (18/7/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-14, ajang tahunan tersebut mengangkat tema Perang Bayu dengan menghadirkan perpaduan nilai sejarah, budaya lokal, dan sentuhan fashion modern yang memukau ribuan penonton.

Parade dibuka dengan penampilan sejumlah kesenian tradisional khas Banyuwangi, seperti Kuntulan Ewon, Tari Seblang, Gandrung, Jaranan Butho, hingga Barong yang dikemas secara kolosal. Penampilan tersebut mempertegas identitas budaya Banyuwangi di tengah perkembangan zaman.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, kemajuan dan globalisasi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat pelestarian budaya, bukan menggesernya.

“Globalisasi tidak boleh menyingkirkan budaya, tradisi dan nilai-nilai luhur yang terwariskan oleh nenek moyang kita. Justru kemajuan haruslah menjadi medium untuk terus melestarikan budaya kita,” ujar Ipuk.

Setelah penampilan budaya tradisional, parade dilanjutkan dengan ratusan kostum karnaval yang mengusung konsep fashion bertaraf internasional. Meski dikemas dengan desain modern dan tata rias kontemporer, seluruh kostum tetap mengambil inspirasi dari budaya dan sejarah Banyuwangi.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, menilai BEC menjadi ruang penting untuk memperkenalkan budaya Banyuwangi kepada masyarakat dunia.

“BEC adalah etalase utama untuk menunjukkan keindahan budaya Banyuwangi di panggung dunia,” katanya.

Tema Perang Bayu dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan rakyat Blambangan melawan kolonialisme. Nilai-nilai kepahlawanan tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat (PD AMAN) Osing Banyuwangi, Wiwin Indiarti, mengatakan Perang Bayu merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Kerajaan Blambangan mempertahankan kedaulatannya.

“Nilai-nilai kegigihan perjuangan dalam Perang Bayu ini harus direvitalisasi dengan baik. BEC menjadi titik awal yang baik untuk menggugah kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga tanah air, budaya, dan alam kita, sebagaimana dulu Rempeg Jogopati dan ribuan rakyat Blambangan rela mati demi kemerdekaan bangsa,” ujar Wiwin.

Sebanyak lebih dari seratus peserta tampil mengenakan kostum bertema Perang Bayu dan berjalan sepanjang rute sekitar dua kilometer, mulai dari Taman Blambangan hingga Jalan Ahmad Yani. Penampilan mereka sukses memikat ribuan masyarakat dan wisatawan yang memadati jalur parade.

BEC 2026 juga dihadiri sejumlah pejabat nasional, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, perwakilan Kementerian Pariwisata RI, anggota DPR RI, jajaran BUMN, serta tamu dari sektor swasta.

Selain itu, parade budaya tersebut turut disaksikan delegasi dari negara-negara anggota ASEAN, East Asia Summit (EAS), dan Pacific Islands Forum (PIF), menegaskan posisi BEC sebagai salah satu agenda budaya bertaraf internasional di Indonesia.