HUT ke-757 Sumenep Dirayakan, GMNI Sentil Luka Kepulauan: Pesta di Panggung, Derita di Kampung

Berita123 Dilihat

Sumenep – Perayaan Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-757 tak hanya diwarnai ucapan selamat dan seremoni. Sebuah poster yang diterbitkan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumenep justru menghadirkan kritik tajam terhadap arah pembangunan daerah.
Poster bernuansa merah tersebut memuat kalimat yang menyentil ketimpangan perhatian pembangunan antara wilayah daratan dan kepulauan.

“Di daratan, pesta digelar. Di kepulauan, rakyat masih bergelut dengan derita. Pemerintah merayakan usia, tetapi lupa menyembuhkan luka.”

Pesan itu menjadi semacam tamparan di tengah gegap gempita peringatan hari jadi. Sebab, di balik usia Kabupaten Sumenep yang telah mencapai 757 tahun, masih terdapat pekerjaan rumah pembangunan yang belum sepenuhnya terselesaikan, terutama menyangkut pemerataan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat kepulauan.

Sorotan tersebut juga mendapat perhatian Mansur, mantan Ketua DPC GMNI Sumenep. Melalui keterangan yang menyertai unggahan poster, ia menyampaikan sindiran singkat tetapi sarat makna.

“Dari sekian banyak SW hari jadi, ini yang menarik perhatian. #Senyum di panggung, luka di kampung,” tulis Mansur.

Kalimat tersebut menyiratkan ironi perayaan hari jadi yang semestinya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar panggung untuk menampilkan keberhasilan dan kemeriahan seremoni.

Frasa senyum di panggung, luka di kampung seolah menggambarkan jarak antara narasi keberhasilan pembangunan dengan realitas yang masih dirasakan sebagian masyarakat.

Kritik GMNI itu juga menyinggung persoalan perubahan nomenklatur dalam edisi khusus Hari Jadi Kabupaten Sumenep. Ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa tersebut tidak hanya menyoroti persoalan pembangunan, tetapi juga menyampaikan sikap kritis terhadap kebijakan dan perubahan tata kelola pemerintahan daerah.

Pada usia ke-757, Sumenep tentu memiliki banyak capaian yang patut diapresiasi. Namun, usia panjang sebuah daerah tidak otomatis menjadi ukuran keberhasilan apabila masih ada masyarakat yang harus berjuang mendapatkan akses pelayanan dasar, infrastruktur memadai, serta perhatian pembangunan yang setara.

Hari jadi semestinya bukan hanya tentang seberapa meriah panggung perayaan dibangun, berapa banyak penghargaan dipajang, atau seberapa panjang daftar prestasi diumumkan.

Lebih dari itu, momentum tersebut seharusnya menjadi ruang untuk mengukur sejauh mana negara hadir hingga ke pelosok kepulauan.

Sebab, pembangunan tidak boleh hanya terlihat indah dalam laporan dan meriah di atas panggung, sementara sebagian rakyat masih harus menyimpan luka di kampungnya sendiri.