Keluarga Rohim Bantah Ingin Persoalkan Kematian Korban, Pilih Terima sebagai Musibah

Berita266 Dilihat

Sumenep – Keluarga Imron alias Muhammad Rohim, pemuda asal Dusun Janggerra Timur, Desa Gadding, Kecamatan Manding, Sumenep, menegaskan telah menerima kepergian korban sebagai musibah.

Pernyataan tersebut disampaikan Pusaha, ayah kandung Rohim, menyusul munculnya pemberitaan yang mempertanyakan penyebab kematian anaknya setelah mengalami kecelakaan tunggal di wilayah Kecamatan Batuputih.

Pusaha mengatakan, dirinya tidak memiliki keinginan untuk membawa peristiwa tersebut ke ranah hukum. Ia memilih menerima kejadian yang menimpa putranya dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Saya ikhlas atas kecelakaan yang menimpa anak saya. Saya tidak ada niatan untuk melaporkan kejadian itu ke kepolisian,” ujar Pusaha, Selasa (11/8/2026).

Ia juga menyatakan keluarga tidak menghendaki dilakukan autopsi terhadap jenazah Rohim. Keputusan tersebut diambil karena keluarga ingin menerima kepergian korban dengan tenang dan tidak ingin memperpanjang persoalan.

“Bahkan tidak mau melakukan autopsi, karena takut dosa kepada yang sudah meninggal, dan saya sudah pasrah kepada Yang Maha Kuasa,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan kepolisian, Rohim mengalami kecelakaan tunggal pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 19.00 WIB di sebuah jembatan di Jalan PUD, Dusun Mongguk, Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih.

Kasi Humas Polresta Sumenep Ipda Ach. Putrawardana, S.H., menyampaikan keterangan tersebut berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan Polsek Batuputih.

Menurutnya, sebelum kecelakaan, Rohim berada di kawasan Pantai Badur bersama seorang perempuan dan dua rekannya. Setelah berpindah ke kawasan Pasar Badur, korban kemudian pulang seorang diri menggunakan sepeda motor menuju arah timur.

Saat melintas di lokasi kejadian, sepeda motor yang dikendarai korban diduga menabrak bagian got jembatan. Benturan tersebut menyebabkan korban terpental dari sepeda motornya.

Warga yang mengetahui kejadian kemudian memberikan pertolongan. Korban sempat dibawa ke rumah bidan desa dan selanjutnya ke Puskesmas Batuputih sebelum dirujuk ke RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

Namun, korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 21.30 WIB.

Putrawardana mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara, polisi belum menemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan adanya kekerasan yang disengaja terhadap korban.

“Belum ditemukan bukti yang cukup terkait dugaan kekerasan yang disengaja terhadap korban,” jelasnya.

Polisi juga telah melakukan sejumlah langkah, mulai dari mendatangi lokasi kejadian, memeriksa sejumlah saksi, berkoordinasi dengan pihak TNI dan fasilitas kesehatan, hingga meminta keterangan keluarga korban.

Dalam pertemuan dengan pihak keluarga, Pusaha bersama keluarga menyatakan tidak menghendaki kejadian tersebut dilanjutkan ke proses hukum. Keluarga memilih mengikhlaskan kepergian Rohim dan fokus pada ketenangan almarhum.

Terkait visum et repertum, pihak rumah sakit tidak menerbitkannya karena keluarga tidak melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian dan menolak proses hukum.

Polisi selanjutnya berencana melakukan klarifikasi kembali kepada keluarga terkait munculnya pemberitaan dan opini di media daring mengenai penyebab kematian Rohim.

Kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak membuat kesimpulan sendiri mengenai penyebab kematian korban sebelum terdapat hasil pemeriksaan atau bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.