Sumenep – DPRD Kabupaten Sumenep mendorong pemerintah daerah bersama distributor pupuk untuk mempercepat penyaluran pupuk bersubsidi ke wilayah Kepulauan Sapeken. Langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan petani dapat terpenuhi tepat waktu, khususnya menjelang musim tanam.
Anggota DPRD Sumenep dari Fraksi PKS, Syamsul Bahri, mengatakan pihaknya menerima banyak keluhan dari petani di sejumlah pulau terkait keterlambatan distribusi pupuk bersubsidi. Kondisi itu disebut berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian, terutama komoditas padi dan jagung.
“Kami menerima laporan bahwa pupuk sering datang terlambat. Keterbatasan kapal pengangkut maupun cuaca buruk memang menjadi kendala, tetapi petani tidak bisa menunggu. Jika distribusi terlambat, musim tanam bisa terlewat dan berpotensi menyebabkan gagal panen,” ujar Syamsul Bahri, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, terdapat sejumlah langkah yang perlu segera dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Di antaranya mempercepat jalur distribusi dengan menambah armada kapal pengangkut pupuk saat musim tanam, memperbarui data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) secara berkala agar hanya petani aktif yang menerima pupuk bersubsidi, serta mencegah potensi penyelewengan distribusi ke luar wilayah.
Selain itu, Syamsul juga mengusulkan penyediaan gudang penyangga pupuk di wilayah kepulauan. Dengan adanya stok cadangan di pulau, kebutuhan pupuk petani tetap dapat terpenuhi meski distribusi terkendala cuaca ekstrem atau gelombang tinggi.
Ia menambahkan, DPRD Sumenep akan memanggil Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, distributor pupuk, serta perwakilan kelompok tani untuk membahas skema distribusi khusus bagi wilayah kepulauan. Upaya tersebut ditargetkan mampu mengatasi persoalan distribusi pada musim tanam 2026/2027.
“Petani di kepulauan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Jangan sampai mereka kehilangan kesempatan bercocok tanam hanya karena pupuk datang terlambat,” tegasnya.
Sementara itu, perhatian yang diberikan Syamsul Bahri mendapat apresiasi dari kalangan petani. Herlianto, petani asal Desa Saebus, berharap pemerintah dapat menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani di wilayah kepulauan.
“Kami sangat berharap kebutuhan pupuk bisa terpenuhi,” ujarnya.
Herlianto menjelaskan, kuota pupuk bersubsidi yang diterima saat ini hanya mencukupi kebutuhan untuk budidaya padi dan jagung selama satu musim tanam. Padahal, menurutnya, wilayah Sapeken memiliki potensi pengembangan komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan semangka.
“Potensi pertanian kami sebenarnya cukup besar. Namun karena pupuk yang bisa ditebus terbatas, pengembangan tanaman selain padi dan jagung belum bisa dilakukan secara maksimal,” katanya.






