Morgan Stanley: Target Harga Emas US$5.200 Hadapi Tantangan dari Sikap Hawkish The Fed

Berita2 Dilihat

Jakarta – Prospek kenaikan harga emas menuju level US$5.200 per troy ons diperkirakan menghadapi tantangan yang semakin besar akibat kebijakan moneter ketat yang masih dipertahankan Federal Reserve (The Fed). Meski demikian, dukungan dari pembelian bank sentral dan meredanya ketegangan geopolitik dinilai tetap memberikan fondasi positif bagi logam mulia tersebut.

Dalam laporan riset terbarunya, Morgan Stanley mempertahankan pandangan positif terhadap harga emas hingga paruh kedua tahun 2026. Namun, lembaga keuangan tersebut menilai pencapaian target harga yang lebih tinggi akan sulit terwujud tanpa peningkatan permintaan dari investor melalui instrumen exchange-traded fund (ETF).

Analis Morgan Stanley, Amy Gower dan Martijn Rats, menyebut permintaan ETF menjadi faktor penting yang masih belum menunjukkan penguatan signifikan.

“Permintaan ETF kemungkinan akan tetap sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, pergerakan imbal hasil riil, serta kekuatan dolar AS,” tulis keduanya dalam laporan tersebut.

Menurut Morgan Stanley, sikap hawkish The Fed menjadi salah satu hambatan utama bagi pergerakan harga emas dalam jangka pendek. Ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi membuat biaya peluang kepemilikan emas meningkat karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil riil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun, yang pada akhirnya memicu arus keluar dana dari sejumlah ETF berbasis emas dalam beberapa waktu terakhir.

Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dipandang sebagai faktor yang dapat memberikan sentimen positif bagi pasar emas. Penurunan risiko konflik berpotensi menekan harga energi dan membuka ruang bagi bank sentral untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih fleksibel.

Selain faktor geopolitik, permintaan dari bank sentral dunia masih menjadi penopang utama harga emas. Morgan Stanley menyoroti peningkatan pembelian emas oleh Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) yang terus menambah cadangan logam mulianya sepanjang 2026.

Data yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan PBOC membeli sekitar 23 ton emas selama periode Maret hingga Mei 2026, melampaui total pembelian sepanjang 12 bulan sebelumnya yang mencapai 19 ton.

Morgan Stanley juga mencatat bahwa hubungan antara suku bunga dan harga emas tidak selalu bersifat negatif. Berdasarkan pengalaman historis, emas dalam beberapa periode justru mampu mencatat penguatan meskipun The Fed menaikkan suku bunga, terutama ketika pasar menghadapi kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi atau risiko sistem keuangan.

Meski demikian, lembaga tersebut menilai keberlanjutan reli emas menuju level yang lebih tinggi masih sangat bergantung pada kembalinya minat investor melalui ETF. Hal itu diperkirakan akan terjadi apabila terdapat sinyal yang lebih kuat mengenai pelonggaran kebijakan moneter serta penurunan tekanan inflasi yang dipicu oleh harga energi yang lebih rendah.

Dengan berbagai faktor tersebut, Morgan Stanley tetap mempertahankan prospek positif terhadap emas, meskipun jalur menuju target harga US$5.200 per troy ons diperkirakan tidak akan mudah dalam waktu dekat.