Pemkot Surabaya Bidik Wisatawan MICE Tak Cuma Menginap 1-2 Malam

Berita239 Dilihat

Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan strategi untuk meningkatkan lama tinggal peserta Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE). Peserta kegiatan MICE nantinya tidak hanya diarahkan mengikuti agenda pertemuan, tetapi juga menikmati sejumlah destinasi wisata di Kota Pahlawan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Herry Purwadi mengatakan Surabaya memiliki modal kuat untuk mengembangkan wisata MICE. Kota ini memiliki banyak hotel, fasilitas pertemuan, serta destinasi wisata yang dapat dikemas dalam satu paket.

“Pemerintah Kota Surabaya memberikan tawaran untuk mereka stay lebih lama. Dengan apa? Menjual paket-paket wisata, penyelenggaraan event-event bisa di destinasi-destinasi wisata,” kata Herry, Senin (10/8/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Surabaya pada Juni 2026 mencapai 53 persen. Angka itu naik dari 49,95 persen pada Mei 2026.

TPK hotel Surabaya juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Timur yang pada Juni 2026 tercatat 38,57 persen. Namun, rata-rata lama menginap tamu di Surabaya masih 1,38 malam.

Menurut Herry, data tersebut menunjukkan masih ada ruang bagi Pemkot Surabaya untuk meningkatkan durasi kunjungan wisatawan, termasuk peserta MICE.

Selama ini, kata dia, banyak peserta MICE hanya datang untuk mengikuti pertemuan, menginap di hotel, lalu kembali ke daerah asal. Pola tersebut ingin diubah dengan menawarkan aktivitas wisata selama mereka berada di Surabaya.

“Jadi tidak hanya mereka datang rapat, tidur di hotel terus pulang,” ujarnya.

Pemkot Surabaya kemudian menyiapkan sejumlah destinasi yang dapat dikolaborasikan dengan agenda MICE. Kawasan Sungai Kalimas menjadi salah satu yang tengah dikembangkan melalui revitalisasi.

Selain itu, kawasan Kota Lama Surabaya terus ditata dan dikembangkan. Pemkot juga menawarkan Kebun Raya Mangrove sebagai alternatif lokasi kegiatan karena memiliki auditorium yang dapat dimanfaatkan untuk pertemuan.

“Sekarang kita juga punya Kebun Raya Mangrove (KRM). Di sana juga punya auditorium yang bisa digunakan untuk pertemuan. Kemudian banyak sekali kampung-kampung wisata tematik juga yang sedang kita angkat sekarang,” jelas Herry.

Untuk menarik peserta MICE menjelajah Surabaya, Disbudporapar juga menyiapkan konsep side event berupa city tour. Layanan tersebut nantinya dapat dikemas bersama hotel tempat penyelenggaraan kegiatan.

Pemkot Surabaya bahkan memiliki bus pariwisata yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang paket perjalanan tersebut.

“Misalnya mereka menyelenggarakan MICE di hotel A, kemudian kita coba tawarkan menambahkan sesuatu, itu tadi paket wisata kita dengan harga yang tidak mahal,” katanya.

Paket wisata akan dikolaborasikan dengan berbagai pelaku usaha dan sektor pariwisata sehingga peserta MICE dapat memperoleh pengalaman yang lebih lengkap tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Menurut Herry, strategi tersebut tidak hanya bertujuan memperpanjang lama tinggal, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Salah satu sektor yang turut menjadi perhatian adalah kuliner. Surabaya, kata Herry, telah menjalani uji petik untuk penetapan sebagai kota kuliner oleh Kementerian Ekonomi Kreatif.

“Pemerintah kota hadir untuk memberikan pelayanan yang maksimal. Tidak hanya Disbudporapar, tapi seluruh perangkat daerah lain di Pemkot Surabaya,” pungkas Herry.