Kediri – Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Fahim Royani menerima kunjungan silaturahim Gus Hery Haryanto Azumi bersama rombongannya pada Sabtu (20/6/2026). Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian silaturahim kebangsaan dan ke-NU-an menjelang pelaksanaan Kombes dan Musyawarah Nasional Ulama yang akan digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.
Rombongan Gus Hery dipimpin Dr H Fadli Yasir, MA, serta didampingi sejumlah akademisi dan kader Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai daerah.
Dalam kesempatan itu, Gus Fahim menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para intelektual muda NU yang dinilainya memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta jaringan luas yang dapat menjadi modal penting bagi kemajuan organisasi di masa depan.
Pertemuan tersebut juga membahas berbagai tantangan yang akan dihadapi NU menjelang Muktamar ke-35. Menurut Gus Fahim, organisasi membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren sekaligus mampu memahami dinamika nasional dan global.
“NU membutuhkan pemimpin yang lahir dari tradisi santri, memahami pesantren, tetapi sekaligus mengerti politik, ekonomi, hubungan internasional, perkembangan teknologi, dan memiliki jejaring global yang kuat. Yang paling penting, semua itu diniatkan untuk kemajuan NU dan kemaslahatan nahdliyin,” ujar Gus Fahim.
Gus Fahim mengaku optimistis setelah mendengar kesiapan Gus Hery untuk ikut dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia pun berpesan agar setiap langkah yang ditempuh dilandasi niat tulus untuk mengabdi kepada organisasi.
“Saya senang sekali mendengar Gus Hery siap ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU yang akan datang. Mulai sekarang, perbaiki niat. Niatkan semata-mata untuk berkhidmat kepada NU dengan ikhlas. Kalau niatnya lurus dan baik, insya Allah ketika ada tantangan atau ujian, Allah akan melapangkan jalan keluarnya,” katanya.
Lebih lanjut, Gus Fahim menegaskan bahwa NU bukan sekadar organisasi, melainkan bagian dari tradisi perjuangan dan kehidupan sosial warga nahdliyin. Karena itu, menurutnya, kepemimpinan di tubuh NU harus dijalankan sebagai amanah pengabdian.
“Memimpin NU bukan soal jabatan, tetapi soal pengabdian. Siapa pun yang mengemban amanah harus memiliki kesabaran, ketulusan, dan kesiapan berkorban demi umat,” tegasnya.
Ia juga menilai kehadiran Gus Hery dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjadi warna baru yang dapat memperkuat semangat persatuan di tubuh organisasi.
“Kehadiran Gus Hery dalam kontestasi ini merupakan angin segar bagi NU. Kita membutuhkan pemimpin yang datang bukan membawa konflik, melainkan membawa semangat persatuan dan pengabdian,” ujarnya.
Menurut Gus Fahim, salah satu kelebihan Gus Hery adalah kepeduliannya terhadap para kiai dan pesantren di berbagai daerah, meskipun tidak memimpin pesantren secara langsung.
“Saya melihat Gus Hery memiliki perhatian yang besar kepada para kiai dan pesantren. Pemimpin NU harus memiliki keluasan pandangan seperti itu, memikirkan seluruh pesantren dan seluruh warga nahdliyin,” katanya.
Sementara itu, Gus Hery menjelaskan bahwa keputusannya untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Ia mengaku terinspirasi oleh nasihat yang pernah disampaikan almarhumah Lily Wahid dan KH Hasyim Wahid atau Gus Iim.
“Saya masih ingat betul nasihat almarhumah Bu Lily Wahid dan Gus Iim beberapa tahun lalu. Mereka berpesan agar saya berkhidmat dengan sungguh-sungguh dan ikhlas untuk NU serta tidak berhitung soal untung-rugi ketika berjuang untuk jam’iyah ini,” ungkap Gus Hery.
Menurutnya, nasihat tersebut menjadi amanah moral yang terus ia pegang hingga saat ini.
“Apa yang saya lakukan hari ini semata-mata sebagai ikhtiar menjalankan amanah moral tersebut dan menjawab panggilan untuk mengabdi kepada NU,” tambahnya.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu ditutup dengan doa bersama. Pada kesempatan tersebut, Gus Fahim mendoakan agar Gus Hery diberikan kesehatan, kemudahan, dan kelancaran dalam setiap langkah pengabdiannya bagi Nahdlatul Ulama.
“Saya mendoakan semoga Allah SWT memudahkan setiap langkah Gus Hery, melapangkan jalannya, menguatkan lahir dan batinnya, serta menjadikan ikhtiarnya membawa manfaat besar bagi NU, umat, bangsa, dan negara,” tutup Gus Fahim.
Silaturahim tersebut menjadi bagian dari konsolidasi pemikiran dan dialog keummatan menjelang Muktamar NU ke-35 yang diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan terbaik untuk membawa Nahdlatul Ulama semakin maju dan relevan dalam menjawab tantangan zaman.


