PEROKOK YANG MENYEBALKAN

Opini103 Dilihat

Sebetulnya, aku tidak terlalu membenci para perokok. Terlebih aku memang terlahir dan hidup di antara dominasi ahli hisab. Menjadi persoalan ketika merokok menjadi sebuah kewajiban fardhu ain yang bahkan tidak bisa ditinggalkan walau hanya semenit.

Di sebuah bengkel di siang yang terik, aku menunggu seorang laki-laki gendut yang sedang mengambil aki motor di etalase toko tempat ia bekerja. Karena tempatnya yang cukup tinggi, laki-laki gendut itu mengambil tangga untuk menjangkau aki tersebut. Kulihat pergerakannya cukup lamban sekali untuk ukuran sebuah bengkel yang menjual jasa perbaikan dan penjualan suku cadang. Bukan karena tubuhnya yang berat, tapi karena ia sibuk dengan hisapan rokoknya yang sedari tadi menemaninya bekerja. Aku perhatikan tangan kanan memegang tangga sedangkan tangan kirinya masih menjepit rokok yang sudah tinggal sepertiga. Belum juga ia mendapatkan aki, namun sudah berkali-kali ia menghisap rokoknya.

Pegang aki hisap rokok, turun dari tangga hisap rokok, melipat tangga hisap rokok, buka kardus aki hisap rokok lagi. Bahkan ketika ia mengencangkan baut aki dengan mata obeng, tangan kirinya masih sibuk memegang rokok. Sampai aku geregetan ikut membantu memegang gulungan kabel yang melilit antara aki dan bodi motor. Jika dihitung, mungkin rasio antara mulutnya yang menghisap rokok dengan tangannya yang bekerja berkisar 75:25. Sangat jauh sekali perbandingannya.

Aku yang sudah kelelahan dorong motor karena mogok, semakin merasa jengkel karena mendapatkan bengkel dengan pekerja yang kurang menghargai pelanggan dan sibuk sekali dengan rokoknya.

Di akhir kisah, aku meminta tolong kepada montir tadi untuk sekalian mengencangkan ukuran rem belakangku, tapi alih-alih ingin memberitahu dia tentang kunci pas yang cocok dengan ukuran motorku, dia malah ketus dan merasa tidak terima karena kuberitahu. la membanting kunci pas ke lantai dan menyuruhku untuk memperbaiki sendiri.

Setelah rem kuperbaiki sendiri dan motor berhasil di nyalakan, saya menarik tuas gas seraya berkata, “Mas, jangan ngambekan, kasian juraganmu itu loh, nanti bengkelnya sepi”. Mendengar perkataanku, montir tadi menjawab dengan suara datar yang tak kudengar karena riuh kendaraan bermotor di jalan raya.

Laper kayaknya dia, belum makan siang. Wkwk…

Ramdans Muhammad, 24/06/2026
——–